Sabtu, 21 April 2012

KATALOGISASI PERPUSTAKAAN


OTOMASI  DAN DIGITALISASI
PERPUSTAKAAN



La Tommeng, S.Sos.,M.Si.

Ø Pendahuluan
Makalah ini ditulis sebagai bahan ceramah dalam acara ”............................." yang bertujuan untuk mempersiapkan SDM sebagai calon pustakawan profesional dalam era informasi, makalah ini disusun dari tiga arah. Pertama, sekilas mengkaji kegiatan Pengelolaan Perpustakaan dengan sistem Komputerisasi perpustakaan; kedua, membahas perkembangan teknologi informasi; dan ketiga mempertemukan tuntutan pelayanan perpustakaan yang didukung oleh kemajuan teknologi informasi. Dalam makalah ini, istilah teknologi informasi diartikan sebagai perpaduan antara teknologi komputer dan teknologi komunikasi.
Dalam rangka meningkatkan pengelolaan dan layanan perpustakaan dan agar perpustakaan tidak ditinggalkan penggunanya, sudah merupakan tugas bagi perpustakaan mulai menerapkan teknologi modern dalam berbagai aspek untuk membantu sistem layanannya. Karena itu perpustakaan dapat mulai menerapkan sistem otomasi untuk berbagai kegiatan dan transaksi layanan perpustakaan.  Selanjutnya perpustakaan harus mulai merintis langkah-langkah untuk menuju layanan perpustakaan digital.

Ø Otomasi  Perpustakaan
Ketika kita berbicara soal perpustakaan dan teknologi informasi, kita akan dihadapkan pada dua istilah yang berbeda yaitu otomasi perpustakaan dan perpustakaan elektronik. Keduanya memiliki arti dan fungsi yang berbeda.
Otomasi perpustakaan adalah sebuah sistem informasi yang diterapkan dalam sistem pelayanan di perpustakaan sehingga beberapa pekerjaan dapat dilakukan secara otomatis dengan bantuan teknologi informasi tersebut. Beberapa fungsi yang dijalankan dalam otomasi perpustakaan adalah: pencarian buku di database katalog, peminjaman, pengembalian, pemesanan, pembuatan laporan dan statistik, dan sebagainya. Fungsi-fungsi ini pada dasarnya adalah fungsi perpustakaan untuk melayani anggotanya. Dengan demikian otomasi perpustakaan ditujukan untuk membatu pelaksanaan pekerjaan pustakawan sehari-hari.
Sedangkan perpustakaan elektronik adalah sebuah bentuk lain dari perpustakaan yang koleksinya memiliki format elektronik atau digital. Dokumen, kaset audio, video, peta, dan semua jenis koleksi perpustakaan pada umumnya, disimpan dalam format elektronik. Koleksi-koleksi tersebut disimpan dalam ‘rak-rak’ elektronik yang secara fisik ukurannya sangat kecil dibandingkan dengan ruangan untuk menyimpan buku-buku di perpustakaan biasa. Yaitu disimpan dalam hard disk server komputer yang berperan sebagai server perpustakaan elektronik. Perpustakaan elektronik biasanya tidak bisa dipisahkan dari ketersediaan jaringan komputer untuk mengakses koleksi di server. Hal ini lah yang menjadi salah satu keunggulan dari perpustakaan elektronik sehingga pengguna dapat mengakses koleksi sebuah perpustakaan elektornik tanpa harus berkunjung ke lokasinya secara fisik, namun cukup dengan mengaksesnya lewat jaringan komputer atau internet. Secara fisik pengunjung bisa berada di manapun asal terdapat akses ke server perpustakaan digital. Di sini tidak ada istilah ‘meminjam’ buku, tetapi yang ada adalah ‘mendownload’, mengakses, memainkan, mengupload, dan searching
Namun yang masih menjadi kendala pengembangan perpustakaan elektronik adalah ketersediaan koleksi dalam bentuk elektronik, jalur internet yang lambat, dan masih sedikitnya masyarakat yang memiliki komputer dan akses ke internet.
Otomasi perpustakaan dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan pengguna perpustakaan tentang informasi yang semakin kompleks, baik kualitas maupun kuantitasnya. Pengguna ingin memperoleh pelayanan secara cepat, tepat dan akurat. Otornasi perpustakaan juga dilaksanakan dalam rangka meningkatkan kinerja dan perpustakaan, sehingga perpustakaan dapat memiliki daya saing dengan perpustakaan lainnya, dengan menonjolkan segi kepraktisan, kemudahan, kecepatan dan keakuratan dalam pelayanannya.
Perpustakaan diharapkan mampu memenuhi dan mengantisipasi kebutuhan pengguna pada era globalisasi, dimana informasi dengan mudah menyebar keseluruh penjuru dunia dalam waktu sekejap. Tanpa kemampuan memenuhi kebutuhan pengguna di bidang kualitas informasi, kecepatan dan keakuratan informasi yang disampaikan, maka perpustakaan akan ketinggalan dan ditinggalkan oleh penggunanya.
Pelaksanaan otomasi perpustakaan dapat dilakukan secara bertahap oleh suatu perpustakaan, mulai dari proses pengadaan koleksi, pengolahan dan pelayanan perpustakaan. Tahap-tahap tersebut dapat berbeda antara satu perpustakaan dengan perpustakaan lainnya, tergantung pada prioritas perpustakaan yang bersangkutan.
Pelaksanaan otomasi perpustakaan dapat dilakukan secara bertahap oleh suatu perpustakaan, mulai dari proses pengadaan koleksi, pengolahan dan pelayanan perpustakaan. Tahap-tahap tersebut dapat berbeda antara satu perpustakaan dengan perpustakaan lainnya, tergantung pada prioritas perpustakaan yang bersangkutan.
Kegiatan di perpustakaan yang dikelola dengan sistem otomasi antara lain:

1. Sirkulasi
Sistem sirkulasi yang terotomasi mencakup semua administrasi peminjaman dan pengembalian buku , reservasi (pesanan buku yang akan dipinjam), perhitungan denda dan peringatan kepada peminjam tentang keterlambatan pinjaman., statistik dsb, Satu terminal komputer dapat menggantrikan setumpuk kartu peminjaman dan dapat mempercepat proses layanan.
Tujuan utama dari sistem sirkulasi berbasis komputer adalah pencatatan secara sistematis item-item yang dipinjam serta data rinci peminjamannya. Lebih spesifik, otomasi sirkulasi seharusnya menyediakan data sbb:

a.    daftar koleksi yang tersedia.
b.    Buku yang dipinjam
c.    Buku yang dikembalikan dan atau diperpanjang
d.    Tanggal jatuh tempo pinjaman
e.    Apakah peminjam dimungkinkan untuk meminjam lagi
f.     Jika peminjam mencoba meminjam lebih dari yang seharusnya
g.    Mendeteksi persoalan peminjam pada saat transaksi
h.    Pemesanan koleksi
i.      Denda
j.      Data koleksi yang dipinjam
k.    Statistik pinjaman

Salah satu contoh program aplikasi yang memanfaatkan Winisis dengan bantuan Visual Basic adalah SIPISIS versi Windows, yang dikembangkan oleh Tim Otomasi Perpustakaan Universitas Hasanuddin sejak tahun 1997.  Saat ini program SIPISIS Versi Windows baru diinstal pada empat lokasi.  Sedangkan SIPISIS versi DOS yang dibuat sejak tahun 1997 sudah diinstal tidak kurang dari 120 lokasi di seluruh Indonesia. Berikut contoh tampilan SIPISIS versi Windows.

Contoh tampilan awal program SIPISIS versi Windows

Sistem Pendataan Pengunjung
02

Sistem Scurity buku
03

2. Pengadaan bahan pustaka (acquisitions)

Pengadaan bahan pustaka terutama jurnal. CD-ROM yang didatangkan dari luar negeri. biasanya bekerja sama dengan perpustakaan lain, baik secara membeli, tukar menukar, ataupun hadiah.
Adapun otomasi di bidang pengadaan dimaksudkan untuk menjalankan fungsi-fungsi sbb:
a. data koleksi yang akan dibeli
b. data koleksi yang belum dibeli
c. daftar pesanan ke rekanan
d. daftar koleksi yang sedang dalam pesanan
e. data pesnana yang belum diterima
f. pembukuan
g. data koleksi yang baru tiba dan statistik
Apabila perpustakaan menyediakan fasilitas online terhadap pengadaan maka fungsi-fungsi tersebut semakin luas misalnya dapat dilakukan penelusuran ke toko buku/penerbit untuk mengetahui apakah buku yang dipesan masih terbit atau tidak, data harga buku, syarat-syarat pemesanan dari penerbit/toko buku dsb.

Katalogisasi

 Otomasi di bidang katalogisasi berupa manajemen basis data bibliografi, yang memudahkan dalam proses temu balik informasi dan perolehan format katalog secara cepat dan akurat.
Ada beberapa alasan mengapa perlu otomasi katalogisasi antara lain:
Ø  perlu penyediaan sarana akses ke koleksi
Ø  daya telusur yang lebih baik
Ø  pembuatan katalog induk
Ø  menghilangkan atau mengurangi ketidakkonsistenan data bibliografi
Ø  mengurangi biaya perawatan kartu katalog
Ø  karena tuntutan perubahan
Ø   
Sistem katalogisasi yang berbasis komputer idealnya mencakup karakteristik sbb:

Ø  terlaksananya akses online ke database bibliografi yang diperlukan
Ø  Dengan persentase cantuman yang tinggi berarti mengurangi kegiatan katalogisasi original
Ø  konsistensi data bibliografi
Ø  pengedalian kepengarangan
Ø  data dalam katalog dapat diakses melalui berbagai cara dan bentuk

Pengolahan jurnal
Pengolahan jurnal menimbulkan sejumlah persoalan apabila ditangani secara manual. Sifat jurnal yang berbeda dari buku dimana jurnal secara karaklteristik memiliki keunikan seperti nomor volume, nomor terbitan, frekuensi terbitan, sifat perolehan, masa terbitan, judul yang kerap kali berubah, penerbit berganti, dan sebagainya. Oleh karena itu, pengolahan jurnal berbasis komputer dimaksudkan untuk mendapatkan data jurnal yang akurat dan konsisten meliputi data sbb:

a.    judul
b.    subjek
c.    nama agen
d.    data jurnal yang telah diterima
e.    mengirim data jurnal  yang belum diterima ke agen/penerbit
f.     judul-judul dapat disortir menurut abjad dengan cepat.

 


Ø MEMBANGUN PERPUSTAKAAN DIJITAL

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membangun perpustakaan dijital, yaitu antara lain;

a. Sumberdaya manusia (pustakawan)
b. Sumberdaya teknologi
c. Sumberdaya finansial
d. Sumberdaya organisasi

a. Sumberdaya manusia
Sumberdaya manusia perpustakaan , merupakan elemen penting dalam membangun perpus-takaan dijital. Pustakawan selayaknya mempunyai semagat yang kuat untuk  membangunnya. Pustakawan harus memiliki kompetensi manajerial lebih dari yang dimiliki sekarang.
Kompetensi manajerial itu adalah ;Dream, Goal, Strategy, Action , Result dan Evaluation.

Dream : merupakan cita-cita, impian, visi yang kuat untuk dicapai.
Goal : sasaran jangka pendek untuk mencapai impian,
Strategy : merupakan cara untuk mencapai sasaran
Action : pelaksanaan dari strategi di lapangan
Result : hasil yang dicapai. Apakah sudah mencapai sasaran yang diharapkan.
Evaluation : adalah upaya untuk menilai apakah sasaran benar-benar tercapai. Jika tidak perlu di evaluasi dan strategi yang perlu diubah, bukan goal.

Disamping ketrampilan manajerial, untuk membangun perpustakaan dijital dibutuhkan ketram-pilan teknis. Seperti yang dikatakan Chisenga (2003), ketrampilan teknis dibutuhkan tergantung sifat dan canggihnya perpustakaan dijital yang dibangun, seperti : hardware specialist, networks administrators, database administrators, programmers, content developers, information managers dll. Bahkan ada opini yang mengatakan kompetensi
tambahan yang harus dimilki pustakawan adalah :

a. Kemampuan dalam penggunaan komputer ( computer literacy)
b. Kemampuan dalam menguasai basis data ( databases management)
c. Kemampuan dalam penguasaan peralatan teknologi informasi (tools and technology skills)
d. Kemampuan dalam penguasaan teknologi jaringan (computer networks)
e. Kemampuan dalam penguasaan Internet dan/atau Intranet.

Dengan menguasai kompetensi diatas baik kompetensi manajerial dan kompetensi teknologi informasi, Pustakawan dapat mengelola perpustakaan dijital dengan baik. Jasa perpustakaan menjadi lebih baik dan citra perpustakaanpun menjadi lebih menarik.

b. Sumberdaya teknologi

Teknologi adalah alat. Teknologi semakin canggih dan sangat mendukung untuk membangun perpustakaan dijital. Perkembangan teknologi informasi terus bergerak maju. Sumberdaya ini dibedakan dua yaitu : perangkat keras dan perangkat lunak. Yang termasuk perangkat keras adalah : Komputer, Server, scanner, photo dijital, modem (untuk sambungan ke Internet), sambungan tilpun, jaringan dll. Sedangkan untuk perangkat lunak , misalnya : Acrobat Reader, GDL dll.

c. Sumberdaya finansial
Abjad a dan b di atas akan dapat diwujudkan jika sumberdaya finasial mencukupi. Untuk itu rekomendasi Dikti dalam Perpustakaan Perguruan Tinggi : Buku Pedoman 2004 yang menyatakan bahwa jumlah dana yang disarankan adalah 5% dari seluruh anggaran perguruan tinggi. Untuk perguruan tinggi negeri, gaji pengawai tidak termasuk ke dalam persentasi tersebut.Jumlah tersebut adalah wajar jika perpustakaan dianggap sebagai jantung perguruan tinggi. Dalam hal perpustakaan dijital sudah seharusnya menjadi visi institusi, sehingga keberadaan dana tersebut dapat diharapkan. Untuk itu pustakawan harus selalu mengadakan pendekatan cantik kepada pengambil kebijakan. Disamping itu ia juga harus mencari dukungan dari pihak lain untuk membantu mendapat dana yang diharapkan. Pola kompetisi saat ini dengan memberikan block grand kepada perpustakaan perlu diperjuangkan. Karena dengan penuh semangat, optimisme, kerja keras dan berdoa dana tersebut bias diperoleh.     


d. Sumberdaya organisasi

Struktur organisasi mikro perpustakaan perlu disesuaikan. Hal ini penting agar kegiatan digitalisasi dapat ditampung di suatu wadah dengan penanggung jawab tertentu. Bila perlu ada Bagian Digitalisasi, disamping Bagian Jasa Teknis , Jasa Pengguna, dan Bagian Administrasi. Sehingga bagian ini akan fokus untuk menangani dijitalisasi koleksi sampai koleksi tersebut siap untuk di upload dan diakses oleh pengguna.

Winisis Untuk Sistem Otomasi dan Digitalisasi Dokumen


Banyak sistem otomasi perpustakaan yang dapat digunakan.  Ada sistem  buatan dalam negeri, ada pula buatan luar negeri. Buatan luar negeri, walau banyak pula yang dapat diperoleh secara gratis, namun kebanyakan tidak sesuai dengan kebutuhan.  Terutama karena menggunakan bahasa asing (Inggris).  Sedangkan sistem otomasi buatan dalam negeri kebanyakan harganya masih tidak terjangkau oleh pada umumnya perpustakaan kecil.
Dengan Winisis yang gratis ini kita dapat membuat sistem otomasi sederhana namun berdaya guna.  Program ini meskipun sederhana namun cukup fleksibel dan dapat dikembangkan oleh pengguna yang kreatif.  Sistem ini banyak digunakan di Indonesia sehingga mudah bagi penggunanya untuk berkonsultasi dengan pengguna lain. Lain dari pada itu, sistem ini pada umumnya diajarkan pada lembaga pendidikan perpustakaan di Indonesia. Itulah sebabnya dengan menggunakan Winisis kita dapat membuat sistem otomasi perpustakaan digital secara tepat guna dan murah meriah.

winunhas

Contoh tampilan Winisis untuk penelusuran informasi dan full Text


Winisis dapat pula digunakan untuk sistem otomasi sirkulasi tanpa memerlukan kemampuan pemograman yang rumit.  Tentu saja jika frekuensi transaksi sirkulasi tidak terlalu besar dalam satu hari.  Bagi perpustakaan kecil dengan frekuensi peminjaman misalnya dibawah 50 transaksi dalam sehari, kiranya dapat menggunakan sistem Winisis tanpa pemograman untuk sistem sirkulasinya. Namun untuk perpustakaan yang volume sirkulasi bukunya  cukup besar, diperlukan pengembangan yang lebih canggih, misalnya tambahan pemograman menggunakan Visual Basic atau Delphi.
Secara sederhana penayangan data Winisis di internet dapat pula dilakukan dengan sebelumnya melakukan konversi data Winisis ke bentuk XML (Extensible Markup Language) untuk kemudian data bentuk XML dapat ditelusur menggunakan program browser biasa. Selain itu basisdata yang dihasilkan dengan program Winisis dapat pula diakses  melalui internet menggunakan program tertentu, misalnya ISISONLINE. Dengan pilihan program ISISONLINE, database Winisis dapat dimanfaatkan langsung tandapa konversi ke format database lain. Tentu saja untuk penyimpanan data dan programnya perlu dipilih opsi  server internet sesuai kebutuhan dan kemampuan.

Selain itu database CDS/ISIS (Winisis) datap dikembangkan ke layanan perpustakaan digital. Untuk itu data dan program perlu disimpan pada server yang dapat diakses via internet. Tentu saja perlu dipilih opsi penitipan data yang sesuai kebutuhan dan kemampuan perpustakaan.  Salah satu program yang dapat dipilih adalah GDL (Ganesha Digital Library).  Dengan GDL database perpustakaan dapat ditayangkan via internet, sekaligus dapat menampilkan full-text dari dokumen jika tersedia. Kalau GDL yang digunakan, maka database CDS/ISIS perlu dikonversi lebih dahulu ke format database SQL. 










unhas 














Contoh tampilan awal website Universitas Hasanuddin

Salah satu cara sederhana dan murah meriah menitipkan basisdata hasil pengolahan Winisis pada internet adalah dengan mengubah seluruh cantuman  ke bentuk XML (Extensible Markup Language).  Format XML adalah pengembangan dari format HTML. Bentuk XML inilah yang dapat disimpan di internet, tentunya setelah dilengkapi dengan halaman homepage berbasis HTML.  Ada beberapa jasa penitipan gratis yang dapat digunakan, misalnya Geocities atau Tripod.
Dokumen versi lengkapnya (fulltext) dapat dibuat menggunakan format PDF (Portable Dopcument Format). Untuk mendapatkan dokumen lengkap dengan format PDF ini, dapat dikonversi dari dokumen format DOC (MS.WORD) yang sudah dalam bentuk digital atau melakukan konversi teks tercetak ke digital (document scanning).  Untuk dokumen yang sudah dalam bentuk digital, misalnya makalah, dapat segera dikonversikan ke bentuk PDF melalui fasilitas yang ada pada MS.WORD.
Dokumen yang masih dalam bentuk tercetak perlu dilakukan proses scanning menggunakan peralatan scanner misalnya Flatbed Document Scanner atau ADF  (Automatic Document Feeder) Document Scanner.  Tipe flatbed adalah document scanner yang hanya mampu melakukan proses scanning lembar per lembar.  Sedangkan tipe ADF dapat melakukan proses scanning lebih cepat karena dapat menscan dokumen dalam jumlah banyak sekali gus.


MENCETAK BARCODE DENGAN PROGRAM BARCODE 97

Program Barcode 97 adalah program freeware yang dapat digunakan untuk membuat image barcode dari input karakter berupa angka (0-9), abjad (A-Z) atau karakter-karakter lain seperti spasi, +, -, $, titik, titik koma dsb, dengan panjang tertentu sesuai dengan jenis barcode yang dipilih.  Beberapa jenis barcode yang umum digunakan adalah Code 39, Code 93, EAN 8, EAN 12, UPC version A, 2 of 5 Interleaved atau 2 of 5 Matrix. Program Barcode 97 hanya berfungsi mengkonversi karakter yang diinput ke bentuk image barcode yang disimpan sementara di clipboard Windows.  Selanjutnya jika akan dicetak ke kertas image barcode yang berada di clipboard itu perlu dipastekan ke suatu halaman yang telah dibuka menggunakan program pengolah-kata tertentu, misalnya MS.Word.  Pencetakan selanjutnya dilakukan melalui program MS.Word yang sudah menampung image barcode yang akan dicetak. Demikian seterusnya untuk image barcode lain. Baca juga tulisan lain penulis dengan judul Manfaat Barcode untuk Otomasi Perpustakaan.

Berikut adalah file program Barcode 97:









Langkah-langkah untuk membuat barcode menggunakan program Bacode 97:

1.    Jalankan program Barcode 97, dengan mengklik ikon Barcode 97 (gambar BARCODE) pada desktop, atau masuk ke folder tempat menyimpan file program Barcode 97 melalui Windows Explorer kemudian klik ikon Barcode 97 akan muncul   tampilan berikut:






















2.    Atur parameternya sesuai dengan kebutuhan. Lihat contoh diatas.
3.    Isikan nomor kode barcode yang akan dicetak, misalnya 770000437.  Setelah menekan ENTER, maka image barcode seperti diatas langsung dipreview pada suatu jendela popup kecil.
4.    Klik COPY, untuk menyimpan image barcode tersebut pada cliclippboard.
5.    Kemudian buka suatu dokumen pada Program MSWord.
6.    Buat template berupa tabel untuk menyimpan image barcode yang akan dibuat misalnya seperti berikut:
7.    Klik pada kotak pertama, lalu klik PASTE untuk memasukkan image barcode pada dokumen MS.Word tersebut. Demikian seterusnya untuk angka-angka yang lain pada kotak tabel lainnya dengan cara yang sama, sehingga muncul tampilan seperti berikut:

Dstnya








8.    Lengkapi dengan mengisi image barcode pada semua kotak, sehingga sesuai dengan lebar kertas yang akan digunakan untuk mencetak barcode tersebut.
9.    Lakukan dengan cara yang sama untuk mencetak barcode BUKU dan barcode untuk kartu anggota.
10. Simpan template tersebut sehingga bisa digunakan lagi untuk mencetak nomor barcode lainnya.


Pustakawan Kreatif Menuju Otomasi Perpustakaan dan Perpustakaan Digital

Memasuki millenium ke tiga, yang ditandai dengan maraknya pembicaraan mengeni digital library, peranan perpustakaan sangat drastis berubah seiring dengan berubahnya paradigma layanan perpustakaan dan informasi. Perubahan drastis itu sudah barang tentu menuntut pula perubahan dalam kompetensi dan ketrampilan serta karakteristik pustakawan sebagai pengelola perpustakaan atau pun sebagai manajer informasi.  Kompetensi yang dituntut setidaknya meliputi kompetensi kultural dan kompetensi manajemen.
Beberapa kompetensi kultural yang dituntut dari seorang pustakawan di era globalisasi adalah:
·        Kreatif, proaktif dan percaya diri tinggi
·        Tidak pernah bosan belajar
·        Ada kemauan untuk selalu berubah dan memperbaiki diri
·        Berkepribadian dan berpenampilan menarik
·        Mudah bergaul dan bekerja sama dengan siapa saja
·        Punya komitmen terhadap layanan yang bermutu dan tidak pernah puas dengan layanan yang diberikan
·        Berjiwa kewirausahaan (enterpreneurship)
·        Tegas dalam aturan namun fleksibel pelaksanaan
·        Jujur dan bermoral

Sedangkan beberapa kompetensi manajemen dan ketrampilan yang dituntut dimiliki oleh seorang pustakawan di era globalisasi adalah:
·        Menguasai ketrampilan teknis yang diperlukan sebagai seorang pustakawan dan manajer informasi
·        Tidak gagap teknologi, bahkan dituntut menguasai penggunaan TI
·        Menguasai setidaknya satu bahasa asing
·        Trampil berkomunikasi baik lisan maupun tulisan serta rajin membaca
·        Punya kemampuan untuk melakukan penelitian secara mandiri atau kelompok
·        Punya kemampuan untuk mengajar dan membimbing pengguna
·        Berpikir secara global dan komprehensif namun bertindak sesuai kondisi dan kebutuhan, seperti kata orang bijak


Ø Perpustakaan Digital

1. Hakikat Perpustakaan Digital
Perpustakaan Digital adalah sebuah sistem yang memiliki berbagai layanan dan obyek informasi yang mendukung akses obyek informasi tesebut melalui perangkat digital (Sismanto, 2008). Layanan ini diharapkan dapat mempermudah pencarian informasi di dalam koleksi obyek informasi seperti dokumen, gambar dan database dalam format digital dengan cepat, tepat, dan akurat. Perpustakaan digital itu tidak berdiri sendiri, melainkan terkait dengan sumber-sumber lain dan pelayanan informasinya terbuka bagi pengguna di seluruh dunia. Koleksi perpustakaan digital tidaklah terbatas pada dokumen elektronik pengganti bentuk cetak saja, ruang lingkup koleksinya malah sampai pada artefak digital yang tidak bisa digantikan dalam bentuk tercetak. Koleksi menekankan pada isi informasi, jenisnya dari dokumen tradisional sampai hasil penelusuran. Perpustakaan ini melayani mesin, manajer informasi, dan pemakai informasi. Semuanya ini demi mendukung manajemen koleksi, menyimpan, pelayanan bantuan penelusuran informasi.
Lesk (dalam Pendit, 2007) memandang perpustakaan digital secara sangat umum sebagai semanat-mata kumpulan informasi digital yang tertata. Arms (dalam Pendit, 2000) memperluas sedikitnya dengan menambahkan bahwa koleksi tersebut disediakan sebagai jasa dengan memanfaatkan jaringan informasi.
Sismanto (2008) juga mengungkapkan bahwa gagasan perpustakaan digital ini diikuti Kantor Kementerian Riset dan Teknologi dengan program Perpustakaan Digital yang diarahkan memberi kemudahan akses dokumentasi data ilmiah dan teknologi dalam bentuk digital secara terpadu dan lebih dinamis. Upaya ini dilaksanakan untuk mendokumentasikan berbagai produk intelektual seperti tesis, disertasi, laporan penelitian, dan juga publikasi kebijakan. Kelompok sasaran program ini adalah unit dokumentasi dan informasi skala kecil yang ada di kalangan institusi pemerintah, dan juga difokuskan pada lembaga pemerintah dan swasta yang mempunyai informasi spesifik seperti kebun raya, kebun binatang, dan museum.
Perbedaan ”perpustakaan biasa” dengan ”perpustakaan digital” terlihat pada keberadaan koleksi. Koleksi digital tidak harus berada di sebuah tempat fisik, sedangkan koleksi biasa terletak pada sebuah tempat yang menetap, yaitu perpustakaan. Perbedaan kedua terlihat dari konsepnya. Konsep perpustakaan digital identik dengan internet atau kompoter, sedangkan konsep perpustakaan biasa adalah buku-buku yang terletak pada suatu tempat. Perbedaan ketiga, perpustakaan digital bisa dinikmati pengguna dimana saja dan kapan saja, sedangkan pada perpustakaan biasa pengguna menikmati di perpustakaan dengan jam-jam yang telah diatur oleh kebijakan organisasi perpusakaan.



2. Dasar Pemikiran Perpustakaan Digital

Ada beberapa hal yang mendasari pemikiran tentang perlunya dilakukannya digitasi perpustakaan adalah sebagai berikut:
*      Perkembangan teknologi informasi di Komputer semakin membuka peluang-peluang baru bagi pengembangan teknologi informasi perpustakaan yang murah dan mudah diimplementasikan oleh perpustakaan di Indonesia. Oleh karena itu, saat ini teknologi informasi sudah menjadi keharusan bagi perpustakaan di Indonesia, terlebih untuk mengahadapi tuntutan kebutuhan bangsa Indonesia sebuah masyarakat yang berbasis pengetahuan - terhadap informasi di masa mendatang.
*      Perpustakaan sebagai lembaga edukatif, informatif, preservatif dan rekreatif yang diterjemahkan sebagai bagian aktifitas ilmiah, tempat penelitian, tempat pencarian data/informasi yang otentik, tempat menyimpan, tempat penyelenggaraan seminar dan diskusi ilmiah, tempat rekreasi edukatif, dan kontemplatif bagi masyarakat luas. Maka perlu didukung dengan sistem teknologi informasi masa kini dan masa yang akan datang yang sesuai kebutuhan untuk mengakomodir aktifitas tersebut, sehingga informasi dari seluruh koleksi yang ada dapat diakses oleh berbagai pihak yang membutuhkannya dari dalam maupun luar negeri.
*      Dengan fasilitas digitasi perpustakaan, maka koleksi-koleksi yang ada dapat dibaca/dimanfaatkan oleh masyarakat luas baik di Indonesia, maupun dunia internasional.
*      Volume pekerjaan perpustakaan yang akan mengelola puluhan ribu hingga ratusan ribu, bahkan bisa jutaan koleksi, dengan layanan mencakup masyarakat sekolah (peserta didik, tenaga kependidikan, dan masyarakat luas), sehingga perlu didukung dengan sistem otomasi yang futuristik (punya jangkauan kedepan), sehingga selalu dapat mempertahanan layanan yang prima.
*      Saat ini sudah banyak perpustakaan, khususnya di perguruan tinggi dengan kemampuan dan inisiatifnya sendiri telah merintis pengembangan teknologi informasi dengan mendigitasi perpustakaan (digital library) dan library automation yang saat ini sudah mampu membuat Jaringan Perpustakaan Digital Nasional (Indonesian Digital Library Network).
*      Awal adanya perpustakaan digital di Indonesia adalah eksperimen sekelompok orang di perpustakaan pusat Institut Teknologi Bandung (ITB). Mereka memprakarsai Jaringan Perpustakaan Digital Indonesia bekerja sama dengan Computer Network Research Group (CNRG) dan Knowledge Management Research Group (KMRG).

3. Keunggulan dan Kelemahan Perpustakaan Digital
Beberapa keunggulan perpustakaan digital diantaranya adalah sebagai berikut. Pertama, long distance service, artinya dengan perpustakaan digital, pengguna bias menikmati layanan sepuasnya, kapanpun dan dimanapun. Kedua, akses yang mudah. Akses pepustakaan digital lebih mudah dibanding dengan perpustakaan konvensional, karena pengguna tidak perlu dipusingkan dengan mencari di katalog dengan waktu yang lama. Ketiga, murah (cost efective). Perpustakan digital tidak memerlukan banyak biaya.
Mendigitalkan koleksi perpustakaan lebih murah dibandingkan dengan membeli buku. Keempat, mencegah duplikasi dan plagiat. Perpustakaan digital lebih “aman”, sehingga tidak akan mudah untuh diplagiat. Bila penyimpanan koleksi perpustakaan menggunakan format PDF, koleksi perpustakaan hanya bisa dibaca oleh pengguna, tanpa bisa
mengeditnya. Kelima, publikasi karya secara global. Dengan adanya perpustakaan digital, karya-karya dapat dipublikasikan secara global ke seluruh dunia dengan bantuan internet. Selain keunggulan, perpustakaan digital juga memiliki kelemahan. Pertama, tidak semua pengarang mengizinkan karyanya didigitalkan. Pastinya, pengarang akan berpikirpikir
tentang royalti yang akan diterima bila karyanya didigitalkan. Kedua, masih banyak masyarakat Indonesia yang buta akan teknologi. Apalagi, bila perpustakaan digital ini dikembangkan dalam perpustakaan di pedesaan. Ketiga, masih sedikit pustakawan yang belum mengerti tentang tata cara mendigitalkan koleksi perpustakaan. Itu artinya butuh sosialisasi dan penyuluhan tentang perpustakaan digital.

4. Proses Perpustakaan Digital
Suryandari (2007) mengungkapkan proses digitalisasi yang dibedakan menjadi tiga kegiatan utama, yaitu: a) Scanning, yaitu proses memindai (men-scan) dokumen dalam bentuk cetak dan mengubahnya ke dalam bentuk berkas digital. Berkas yang dihasilkan dalam contoh ini adalah berkas PDF. b) Editing, adalah proses mengolah berkas PDF di dalam komputer dengan cara memberikan password, watermark, catatan kaki, daftar isi, hyperlink, dan sebagainya. Kebijakan mengenai hal-hal apa saja yang perlu diedit dan dilingdungi di dalam berkas tersebut disesuaikan dengan kebijakan yang telah ditetapkan perpustakaan. Proses OCR (Optical Character Recognition) dikategorikan pula ke dalam pross editing. OCR adalah sebuah proses yang mengubah gambar menjadi teks. Sebagai contoh, jika kita memindai sebuah halaman abstrak tesis, maka akan dihasilkan sebuah berkas PDF dalam bentuk gambar. Artinya, berkas tersebut tidak dapat dioleh dengan program pengolahan kata. c) Uploading, adalah proses pengisian (input) metadata dan meng-upload berkas dokumen tersebut ke digital library. Berkas yang di-upload adalah berkas PDF yang berisi full text karya akhir dari mulai halaman judul hingga lampiran, yang telah melalui proses editing.
Di bagian akhir, ada dua buah server. Server pertama yaitu sebuah server yang berhubungan dengan intranet, berisi seluruh metadata dan full text karya akhir yang dapat diakses oleh seluruh pengguna di dalam Local Area Network (LAN) perpustakaan yang bersangkutan. Sedangkan server kedua adalah sebuah server yang terhubung ke internet, berisi metadata dan abstrak karya tersebut. Pemisahan kedua server ini bertujuan untuk keamanan data. Dengan demikian, full tekt sebuah karya hanya dapat diakses dari LAN, sedangkan melalui internet, sebuah karya hanya dapat diakses abstraknya saja.

5. Infrastruktur Perpustakaan Digital
Berikut ini akan dijelaskan beberapa infrastruktur perpustakaan digital. Kebutuhan dalam perpustakaan digital adalah perangkat keras, perangkat lunak, dan jaringan komputer sebagai elemen-elemen penting infrastruktur sebuah perpustakaan digital. Perangkat utama yang diperlukan dalam perpustakaan digital adalah computer personal (PC), internet (inter-networking), dan world wide web (WWW). Ketiga hal tersebut memungkinkan adanya perpustakaan digital.
Perpustakaan digital juga memerlukan sistem informasi. Sucahyo dan Ruldeviyani (2007) mengungkapkan bahwa ada tiga elemen penting yang diperlukan dalam pengembangan sistem informasi, yaitu pernagkat keras (hardware), perangkat lunak (software), dan manusia (brainware).
Perangkat keras yang dimaksud adalah sebagai berikut: (1) Web server, yaitu server yang akan melayani permintaan-permintaan layanan web page dari para pengguna internet; (2) Database server, yaitu jantung sebuah perpustakaan digital karena di sinilah keseluruhan koleksi disimpan; (3) FTP server, yaitu untuk melakukan kirim/terima berkas melalui jaringan komputer; (4) Mail server, yaitu server yang melayani segala sesuatu yang berhubungan dengan surat elektronik (e-mail); (5) Printer server, yaitu untuk menerima permintaan-permintaan pencetakan, mengatur antriannya, dan memprosesnya; (6) Proxy server, yaitu untuk pengaturan keamanan penggunaan internet dari pemakaipemakai yang tidak berhak dan juga dapat digunakan untuk membatasi ke situs-situs yang tidak diperkenankan.
Perangkat lunak yang paling banyak digunakan adalah Apache yang bersifat open source (bebas terbuka-gratis). Untuk yang mengunakan Microsoft, terdapat perangkat lunak untuk web server yaitu IIS (Internet Information Sevices). Sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam sistem informasi ini adalah (1) Database Administrator, yaitu penanggungjawab kelancaran basis data, (2) Network Administrator, yaitu penanggungjawab kelancaran operasional jaringan komputer, (3) System Administrator, yaitu penanggungjawab siapa saja yang berhak mengakses sistem, (4) Web Master, yaitu penjaga agar website beserta seluruh halaman yang ada di dalamnya tetap beroperasi sehingga bisa diakses oleh pengguna, dan (5) Web Designer, yaitu penanggungjawab rancangan tampilan website sekaligus mengatus isi website.

a. Kesimpulan
Automasi Perpustakaan adalah sebuah proses pengelolaan perpustakaan dengan menggunakan bantuan teknologi informasi (TI). Ada beberapa perbedaan dalam automasi perpustakaan dan digitalisasi. Perbedaan keduanya adalah terletak pada sistem, aksesibilitas, dan manajemen pengelolaan sistem. Sistem Automasi Perpustakaan adalah penerapan teknologi informasi pada pekerjaan administratif di perpustakaan yang menyangkut antara lain: pengadaan, inventarisasi, katalogisasi, sirkulasi bahan pustaka, pengelolaan anggota, statistik dan sebagainya. Sedangkan sistem perpustakaan digital adalah penerapan teknologi informasi sebagai sarana untuk menyimpan, mendapatkan dan menyebarluaskan informasi ilmu pengetahuan dalam format digital. Dalam Sistem perpustakaan digital dirancang agar koleksi perpustakaan mudah diakses dan jangkauan aksesnya luas, penelusur darimanapun dapat mendapatkan informasi secara langsung tanpa harus bertatap muka dengan pengelola. Sedangkan dalam automasi perpustakaan aksesnya masih sulit sebab hanya anggota saja yang mampu mengakses dan harus datang ke lokasi perpustakaan. Implementasi sistem perpustakaan digital merupakan hal yang kompleks dan rumit, perlu perencanaan yang matang. Mulai dari menyiapkan white papers, spesifikasi fungsional sistem, model bisnis, manajemen tekhnologi, isu legal, manajemen SDM, prosedur dan lain-lain.
Ada faktor penggerak dan alasan membuat automasi perpustakaan menurut Purwono, 2008. Faktor Penggerak automasi perpustakaan antara lain: Kemudahan mendapatkan produk TI, Harga semakin terjangkau untuk memperoleh produk TI, Kemampuan dari teknologi informasi, Tuntutan layanan masyarakat serba klik.
Sedangkan alasan lain membuat automasi perpustakaan adalah: mengefisienkan dan mempermudah pekerjaan dalam perpustakaan, memberikan layanan yang lebih baik kepada pengguna perpustakaan, meningkatkan citra perpustakaan, pengembangan infrastruktur nasional, regional dan global, pengembangan infrastruktur nasional, regional dan global. Cakupan dari Automasi Perpustakaan adalah: Pengadaan koleksi, Katalogisasi, Sirkulasi, reserve, inter-library loan, Pengelolaan penerbitan berkala, Penyediaan katalog (OPAC), Pengelolaan anggota, dan Statistik. Beberapa hal yang harus diketahui dan dikerjakan oleh pustakawan dalam mengautomasikan perpustakaannya adalah:


*      Paham akan maksud dan ruang lingkup dan unsur dari AP (automasi perpustakaan)
*      Paham dan bisa mengapresiasi pentingnya melaksanakan analisis sistem yang menyeluruh sebelum merencanakan desain system
*      Paham akan dan bisa mengapresiasi manfaat analisis sistem dan desain, implementasi, evaluasi dan maintenance.
*      Paham akan proses evaluasi software sejalan dengan proposal sebelum menentukan sebuah system
*      Paham akan dan bisa mengapresiasi pentingnya pelatihan untuk staf dan keterlibatan mereka dalam seluruh proses kerja Menurut Arif , Sebuah Sistem automasi Perpustakaan pada umumnya terdiri dari 3 (Tiga) bagian, komponen tersebut yaitu : Pangkalandatauser/pengguna, dan perangkat automasi
*      Perangkat automasi terdiri dari 2 (dua) bagian, yaitu : perangkat keras, dan perangkat lunak automasi.

Ø Pengantar Internet

          Istilah INTERNET berasal dari bahasa Latin inter, yang berarti  “antara”. Secara kata per kata INTERNET berarti jaringan antara atau penghubung. Memang itulah fungsinya, INTERNET menghubungkan berbagai jaringan yang tidak saling bergantung pada satu sama lain sedemikian rupa, sehingga mereka dapat berkomunikasi. Sistem apa yang digunakan pada masing-masing jaringan tidak menjadi masalah, apakah sistem DOS atau UNIX. Sementara jaringan lokal biasanya terdiri atas komputer sejenis (misalnya DOS atau UNIX), INTERNET mengatasi perbedaan berbagai sistem operasi dengan menggunakan “bahasa” yang sama oleh semua jaringan dalam pengiriman data. Pada dasarnya inilah yang menyebabkan besarnya dimensi INTERNET.
Dengan demikian, definisi INTERNET ialah “jaringannya jaringan”, dengan menciptakan kemungkinan komunikasi antar jaringan di seluruh dunia tanpa bergantung kepada jenis komputernya.

Kesimpulan:
·         Definisi INTERNET : Internet merupakan hubungan antar berbagai jenis komputer dan jaringan di dunia yang berbeda sistem operasi maupun aplikasinya di mana hubungan tersebut memanfaatkan kemajuan media komunikasi (telepon dan satelit) yang menggunakan protokol standar dalam berkomunikasi yaitu protokol TCP/IP.
·         Fungsi : Internet merupakan media komunikasi dan informasi modern.

Sejarah Terbentuknya Internet

Banyak hal di INTERNET hanya dapat dimengerti dengan mengetahui latar-belakang perkembangannya.

ARPANet
Pada tahun 1969 ARPA (Advanced Research Project Agency), sebuah bagian dalam kementerian Pertahana Amerika Serikat memulai sebuah proyek, yang di satu sisi menciptakan jalur komunikasi yang tak dapat dihancurkan dan disisi lain memudahkan kerjasama antar badan riset diseluruh negeri, seperti juga industri senjata. Maka terbentuklah ARPANet. Bila pada awalnya komputer sejenis yang melakukan pertukaran data, bertambahnya komputer dengan berbagai sistem operasi lain menuntut solusi baru komunikasi yang tak terbatas antar semua badan yang tergabung dalam jaringan.

Internetting Project
Untuk itu dibuat Internetting Project, yang mengembangkan lebih lanjut hasil yang telah dicapai dalam ARPANet, agar media komunikasi baru ini juga dapat dimanfaatkan oleh berbagai sistem komputer yang tergabung. Kemudian vendor-vendor komputer meramaikan lalu lintas jaringa tersebut untuk berbagai kebutuhan sehingga terciptalah INTERNET.

Protokol Internet : TCP/IP

Seperti telah disebutkan di atas, INTERNET terbentuk dari jaringan-komputer yang tersebar di seluruh dunia. Masing-masing jaringan-komputer terdiri dari tipe-tipe komputer yang berbeda dengan jaringan yang lainnya. Maka diperlukan sebuah protokol yang mampu mengintegrasikan seluruh jaringan komputer tersebut.
Solusinya adalah sebuah protokol pengiriman data yang tak bergantung pada jenis komputer dan digunakan oleh semua komputer untuk saling bertukar data. Agar data tidak hanya dapat dikirim dan diterima, melainkan juga dapat dimanfaatkan oleh setiap komputer, diperlukan program standar yang mengolah data tersebut pada sistem yang berkaitan.
Protokol pengiriman merupakan sebuah konvensi (kesepakatan) yang menetapkan dengan cara apa data dikirimkan dan bagaimana kesalahan yang terjadi dikenali serta dipecahkan. Secara sederhana prose pengiriman data terdiri atas dua langkah.
Pertama, data yang akan dikrimkan (misalnya sebuah file teks) dibagi ke dalam paket data berukuran data berukuran sama (paket), kemudian dikirimkan satu per satu. Di Internet, protokol ini disebut IP (Internet Protocol).
Kedua, harus dijamin setiap paket data sampai ke alamat yang benar dan semuanya benar diterima. Untuk itu diperlukan protokol lainnya, yaitu Transmission Control Protocol (TCP) mengaitkan sebuah blok data pada paket data IP, yang antara lain mengandung informasi mengenai alamat, jumlah total paket data dan urutan setiap paket yang membentuk paket tersebut. Hanya secara bersamaan kedua protokol membentuk kesatuan yang berfungsi, karena itu biasanya disebut TCP/IP.

Dengan adanya TCP/IP ini, INTERNET memiliki 3 keuntungan :
·      Memberi kesempatan INTERNET menggunakan jalur komunikasi yang sama untuk pemakai yang berbeda pada saat yang sama. Karena paket-paket data tidak perlu dikirimkan bersama-sama, jalur komunikasi dapat membawa segala tipe paket data sementara mereka dikirimkan dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Sebagai contoh, bayangkan sebuah jalan raya di mana mobil bergerak sepanjang jalan yang sama walaupun mereka menuju ke tempat-tempat yang berbeda-beda.
·      Memberi INTERNET fleksibilitas. Sementara paket-paket data bergerak, mereka bergerak dari satu host ke host lain sampai mencapai tujuan akhir. Jika sebuah jalur komunikasi tidak berfungsi, sistem yang mengontrol aliran data dapat menggunakan jalur alternatif. Maka, paket-paket data dapat bergerak melalui jalur-jalur yang berbeda-beda.
·      Meningkatkan kecepatan transmisi data. Sebagai contoh, jika terjadi kesalahan, TCP meminta host asal mengirm kembali hanya paket-paket data yang mengandung kesalahan, bukan semua paket data. Ini berarti meningkatkan kecepatan transmisi data.


Cara mengakses Internet

1.    Sambungan langsung ke Network
Anda dapat menggunakan sebuah komputer yang secara langsung mempunyai hubungan ke INTERNET. Sebagai contoh, Anda mungkin menggunakan sebuah PC yang merupakan bagian dari sebuah jaringan komputer yang mempunyai hubungan ke INTERNET. Dalam kasus ini, sistem Anda menjadi host INTERNET penuh, yaitu mempunyai alamat elektronik tersendiri.
2. Sambungan dengan menggunakan SLIP/PPP
Untuk menggunakan hubungan dial-up telepon, Anda memerlukan sebuah alat untuk mengkonversi sinyal komputer (digital) menjadi sinyal telepon (analog), dan sebaliknya. Alat untuk mengkonversi sinyal digital ke sinyal analog disebut modulator. Sedang, alat untuk mengkonversikan sinyal analog ke sinyal digital disebut demodulator. Untuk mengakses ke INTERNET melalui hubungan telepon, Anda memerlukan sebuah modem (modulator-demodulator). Selain itu diperlukan juga TCP/IP dan software SLIP atau PPP seperti Linux, Warp, dll.
3. Sambungan langsung ke On-line Service seperti BBS, Compuserve.
Untuk menjadi sebuah host INTERNET tanpa harus memiliki hubungan full-time ke INTERNET (yang umumnya sangat mahal), ada sebuah cara mensetup sebuah host INTERNET melalui hubungan telepon. Untuk melakukan hal tersebut, Anda perlu mengadakan perjanjian dengan sebuah host INTERNET yang lain yang bertindak sebagai titik hubungan. Selanjutnya, diperlukan sejumlah program yang disebut sebagai PPP (Point to Point Protocol) dan SLIP (Serial Line Internet Protocol) dalam workstation. Setelah workstation menghubungi host INTERNET melalui jalur telepon, PPP menyediakan kemampuan TCP/IP untuk workstation tersebut.

Alamat IP

Sebuah alamat IP terdiri atas sebuah angka biner 32-bit, yang menggambarkan lokasi jaringan hingga komputer dalam jaringan tersebut yang harus dicapai. Dari sanalah Router memilih jalur yang paling menguntungkan.
Artinya, Internet menentukan sendiri jalan “melalui” banyak jaringan yang tergabung antara dua tempat, sehingga hampir tak mungkin merusak media komunikasi ini. Bila misalnya sebuah kabel penghubung rusak oleh pekerjaan galian tanah, INTERNET mengalihkan pengiriman paket ke jalur lain. Hal ini disebut Dynamic Rerouting.

Alamat DNS

Karena angka biner tidak mudah diingat, maka dikembangkan sistem Domain Name System (DNS). Disini alamat disusun dalam sebuah hierarki berbagai wilayah (domain = wilayah), yang mewakili sebuah kelompok host tertentu. Host adalah komputer dalam jaringan lokal (LAN) atau Wide Area Network (WAN), yang diakses oleh komputer lain dalam jaringan tersebut.
Agar penyampaian otomatis oleh Router tetap berfungsi, angka biner tetap digunakan. Bila Anda memberikan sebuah alamat DNS, pertama-tama data dikirimkan ke sebuah Server dan diubah menjadi alamat Ip yang dapat dibaca oleh Komputer.
Contoh berikut ini akan menjelaskan sistem alamat DNS. Seperti pada alamat IP, alamat tersebut juga mengandung informasi yang dibutuhkan untuk identifikasi komputer yang diingikan. Setiap bagian alamat DNS harus dipisahkan dengan sebuah titik.
Gopher adalah nama sebuah komputer dalam jaringan “bppt” dalam  domain “id”, yang berarti Indonesia. Seperti Anda lihat pada contoh di atas, mula-mula ditulis nama host yang diinginkan, disusul oleh bagian-bagian yang semakin besar hingga tingkat tertinggi, yaitu domain.
Untuk mencapai komputer tersebut, alamat dibaca dari kanan ke kiri. Mula-mula jaringan tempat Anda mengakses INTERNET menciptakan hubungan dengan Router tertinggi yang mengelola semua alamat dalam domain “id”.
Domain diatas mewakili sebuah wilayah geografis, singkatan “id” berarti Indonesia. Selain itu terdapat pula berbagai domain tematik, yang dikenali pada singakatan paling kanan dalam alamat DNS.
Singkatan
Jenis Domain
Com
perusahaan komersial
Edu
badan pendidikan (misalnya universitas atau institut)
Gov
lembaga pemerintahan non-militer
Mil
militer
Net
jaringan
Org
organisasi lainnya
int                
organisasi internasional
Ac
badan pendidikan

Domain geografis :
Singkatan
Artinya
Singkatan
Artinya
Singkatan
Artinya
At
Austria
pl
Polandia
de
Jerman
Au
Australia
pt
Portugal
be
Belgia
Ch
Swiss
se
Swedia
bg
Bulgaria
Dk
Denmark
uk
Inggris
br
Brazil
Ee
Eslandia
us
Amerika
fi
Finlandia
Es
Spanyol
cl
Cile
fr
Prancis
in
India
ir
Irlandia
jp
Jepang

Dengan demikian alamat INTERNET standar adalah : username@domain


KEPUSTAKAAN

MUSTAFA, B. Perubahan paradigma layanan perpustakaan di era teknologi informasi. Jurnal Pustakawan Indonesia, 1998 Vol. 1 No. 1: hal.1 – 5.
MUSTAFA, B. Komersialisasi layanan perpustakaan: tinjauan dan prospek. Makalah pendukung yang disampaikan dalam beberapa seminar.
SUDARSONO, Blasius.  Nilai ekonomi informasi bagi perpustakaan.  Makalah ringkas dalam suatu diskusi di Jakarta, 16 September 1996.
SULISTYO-BASUKI. Peran perpustakaan dalam masa krisis moneter. Makalah disajikan dalam Temu Ilmiah Berkala Program Studi S2 Ilmu Perpustakaan, Informasi dan Kearsipan. Depok, Jum’at, 12 Juni 1998. 
SULISTYO-BASUKI. Perubahan paradigma dalam sistem informasi. Makalah pembuka pada Seminar Sehari Layanan Pusdokinfo Berorientasi Pemakai di Era Informasi, diselenggarakan oleh Program Studi Ilmu Perpustakaan, Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia, Jakarta, 16 Maret 1996.
VANES,  Susan I.  Do You Communicate?. Library Management. 14 (2) 1993: 19-23.







N a m a             : La Tommeng, S.Sos., M.I.Kom
Asal                  : Sidrap
Alamat Rumah  : Kompleks UNHAS Blok J No. 7 Antang
                           Tlp. (0411) 495881
Alamat Kantor  : UPT Perpustakaan UNHAS
                           Kampus UNHAS Km 10 Tamalanrea
                         Telp (0411) 580086 Fax 0411-587027
                          Hp. 08124215457 / Flexi (0411)2475510
 Email             : Tom_UH@Yahoo.com and Entong_UH@Yahoo.com
Pendidikan      :  D3 Perpustakaan Sospol UNHAS (1986).
                          S1-Jurusan Ilmu Perpustakaan
                           S2-Ilmu Komunikasi UNHAS

Kursur dan pelatihan:

n  Pelatihan sistem jaringan Local Area Network di UNHAS
n  Pelatihan Bidang Perpustakaan dan Informasi selama 1991 di Bandung.
n  Pelatihan digitalisasi Perpustakan di Bogor
n  Pelatihan program DYNIX 1994 di Bali.   
n  Lanjutan pelatihan program DYNIX  1995 di Jakarta.
n  Pelatihan Manajemen Perpustakaan PTN/PTS Bogor, 1996
n  Juara 2 Pustakawan Berprestasi tahun 2009

Pengalaman Profesional

n  Asisten Konsultan Automasi Perpustakaan untuk Kawasan Timur Indonesia
n  Asisten Konsultan Pembentukan dan pengelolaan Perpustakaan Multimedia Pemerintah Sulawesi Selatan
n  Anggota Tim Revisi SIPISIS ver DOS dan Versi Windows
n  Penanggungjawab Automasi Perpustakaan UNHAS dalam pengembangan SIPISIS (Sistem Informasi Perpustakaan Berbasis CDS/ISIS)
n  Ketua Divisi Informasi PTIK Universitas Hasanuddin
n  Pengurus IPI (Ikatan Pustakawan Indonesia) Sulawesi Selatan
n  Pembuat Katalog Induk dalam CD-R untuk Untuk beberapa  perguruan tinggi di Indonesia
n  Merancang dan membangun pangkalan data automasi di lebih dari dua ratus perpustakaan di seluruh Indonesia.
n  Mengikuti dan berbicara sebagai penceramah dalam seminar lokal dan nasional dalam bidang perpustakaan, informasi dan komputer

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar